Thursday, February 22, 2018

Mengurangi Kecanduan Gawai ala Oche

Pernah ga kalian lalai dalam melakukan tugas karena keasyikan dengan gawai?
Gawai sendiri adalah istilah dalam Bahasa Indonesia yang artinya adalah  sebuah peralatan elektronik yang bisa memudahkan manusia dalam melakukan komunikasi dan pekerjaan dengan lebih praktis dan efisien. Kita lebih sering menyebutnya dalam Bahasa Inggris yaitu Gadget. O...pasti langsung ngeh deh kalau nyebut gadget. Sok keminggris deh.

Yup gak bisa dipungkiri bahwa gawai udah jadi bagian dari hidup kita sehari-hari. Khususnya gawai berupa telepon genggam alias handphone. Saya juga begitu seperti ada yang terasa kurang saat berada di kantor tetapi handphone lupa terbawa di rumah. Bekerja pun jadi kurang fokus, duh nanti gimana dong kalo ada yang telpon penting mungkin ada panggilan wawancara kerja atau tawaran asuransi baru. Sembari menunggu makan Siang disajikan, kepala menunduk memandangi handphone padahal lagi duduk berdampingan dengan pasangan ataupun dengan kawan sejawat. Tempat bergaul pun udah terpecah menjadi dua yaitu dunia nyata dan dunia maya. Begitu pula dengan penduduknya udah jadi citizen dan netizen..kamu lebih sering bergaul di dunia yang mana?

Smart handphone sebenarnya diciptakan untuk membantu mempermudah hidup manusia tetapi. Saya setuju sih karena pada kenyataannya handphone benar-benar memudahkan hidup saya. 

Saat rindu dengan keluarga di kampung halaman, saya bisa berbincang dan memandangi mereka melalui layar handphone ataupun komputer dengan mengunakan aplikasi WhatsApp. Udah ga ada lagi jarak yang terhampar, tidak perlu menunggu sepucuk surat datang hanya untuk mengetahui kabar mereka.

Lagi bosen nih pengen ngobrol ama teman dan sahabat, udah gampang banget tinggal pantengin handphone Kita udah bisa ngobrol apa dan kapan saja.

Bila sedang bepergian dan tidak tahu tempat apa yang recommended untuk dikunjungi, saya bisa bertanya ke mbah Google sekaligus dengan petunjuk arahnya. 

Lagi mager tapi perut udah lapar, tenang ga usah khawatir. Ambil handphone buka aplikasi gojek, grab ataupun aplikasi lain untuk memesan makanan dan tinggal tunggu makanan diantarkan. 

Ada acara travelling dadakan dan belum beli tiket pesawat dan hotel, ambil handphone buka aplikasi traveloka, tiket.com, Agoda, airy, air BnB dan huala semua beres. 

Eh, tapi kok belum beli baju baru untuk liburan. Ambil handphone lagi, klik Lazada, zalora, tokopedia, shoppe, buka lapak tinggal pilih-pilih deh. 

Ga suka belanja online? Bisa langsung ke mall aja milih baju dan barang favorit lainnya. Udah belanja ternyata pas di depan kasir baru sadar kalo belum sempat ambil uang, sodorin handphone bayar aja pake Tcash. 

Selesai belanja kok pengen nonton bioskop tapi males untuk ikut antri beli tiket. Ambil handphone buka aplikasi mtix tinggal pilih film dan nomer kursi. Cetak tiket, nonton deh ga perlu antri lagi.

Dari beberapa contoh diatas terbukti dong kalo hidup saya jadi lebih praktis dengan adanya gawai berupa handphone ini. Tulisan ini juga saya tulis pakai handphone. Pasti kalian setuju kalo saya bilang dia adalah asisten pribadi yang setia. 

Lalu apa efek samping dari penggunaan gawai yang berlebihan?

Lupa waktu

Ini nih yang sering terjadi kalo saya pegang handphone di akhir pekan. Keasyikan ngobrol dan main game jadi lupa ama tugas di rumah, udah posisi enak males gerak deh. Biasanya ditowel oleh suami yang kelaperan baru deh saya merasakan lapar juga dan beranjak ke dapur  untuk masak.

Badan menjadi tidak sehat

Asli deh, badan jadi pegel-pegel terutama di bagian leher. Kebanyakan nunduk melihat handphone kali ya. Perut juga jadi agak buncit, kebiasaan main game sambil ngemil. Keseringan memandangi layar handphone juga ga bagus buat Mata. Radiasi dari handphone sendiri juga tidak baik untuk otak kita.

Tidak peka pada sekitar

Lagi duduk berdua, e.. malah pada pegang handphone sendiri. Ngobrol sih tapi mata tetap tertuju pada layar gawai. Hadehhh.. interaksi dengan sesama manusia jadi berkurang. Mirip zombie ga sih?
Ada kecelakaan di depan mata, bukannya nelpon ambulan dan menolong korban, malah asyik memotret dan merekam kejadian dan korban. 

Menjadi boros

Dengan mudahnya melakukan transaksi secara digital, pengeluaran jadi kurang terkontrol. Biasanya terjadi sesaat setelah menerima gaji dan baru sadar saat udah tanggal tua hehehe..

Lalu bagaimana cara mengatasinya? 

Manajemen waktu

Berusaha mengatur waktu untuk bermain gawai. Selesaikan dulu pekerjaan yang ada hingga tuntas baru boleh deh berdua dengan gawai. Beri waktu maksimal mungkin sekitar satu jam saja. Untuk yang udah punya anak, usahakan jangan suka bermain di dekat mereka. Sebab anak kecil selalu meniru apa yang kita kerjakan. Bila sudah terlanjur ditiru, ajari mereka untuk disiplin pada waktu Yang sudah disepakati.

Sahabat saya membatasi pemakaian gawai untuk anaknya. Mereka hanya boleh bermain game pada hari minggu saja. Saya sudah terbiasa apabila berkirim pesan pada akhir pekan, selalu mendapatkan jawaban saat sudah larut.

Sahabat lainnya karena anaknya udah bukan balita lagi, mereka udah terbiasa dengan batasan menonton youtube hanya sebanyak satu kali saja dalam sehari. Supaya tidak bosan maka lebih sering mengajak beraktivitas di luar rumah seperti bersepeda, main bola atau mengeksplorasi lingkungan sekitar rumah.

Manajemen anggaran bulanan

Bikin prioritas kebutuhan dan anggaran untuk itu. Jangan mudah tergoda dengan diskon yang merayu. Agak susah sih apalagi bila setiap minggu menerima surel berisi kode promo dan voucher belanja. Sungguh sangat sulit untuk menolaknya. 

Tempatkan tabungan masa depan sebagai prioritas utama. Mungkin kamu lagi nabung untuk pernikahan atau seperti saya lagi persiapan  untuk pensiun sebagai pegawai swasta. Sehingga untuk belanja online hanya jika ada sisa setelah membayar semua tagihan bulanan seperti air dan listrik.
Agak klasik ya tipsnya tapi ya memang itu Caranya. 

Matikan notifikasi aplikasi

Supaya ga terganggu dan selalu membuka gawai, matikan semua notifikasi dari aplikasi di handphone khususnya sosial media dan permainan. Kamu ga mau kan, lagi fokus dengan deadline pekerjaan tiba-tiba terganggu dengan pesan yang masuk ternyata hanya buat ngerumpi ngobrol ngalor ngidul ga jelas juntrungannya. Kita bisa membukanya saat pekerjaan telah tuntas dan udah agak santai.

Tempatkan otak pada tempatnya

Agak kasar ya istilahnya hehehe. Soalnya saya suka gregetan kalo melihat orang yang jadi bego saat memegang handphone pintar. Seyogyanya kita jadi lebih pintar bukannya malah jadi budaknya. Apalagi saat menonton berita kecelakaan  yang terjadi karena lalai bermain gawai. Seakan-akan otak mereka jatuh ke dengkulku dan tidak bisa berlibur dengan jernih lagi. 

Contohnya sudah tahu lagi mengemudi ya jangan sambil mainan gawai. Sadari resiko kecelakaan yang bisa terjadi. Saat berjalan jangan sambil menunduk melihat handphone, kecuali kamu punya tambahan Mata untuk melihat. Lagi masak ya jangan sambil nelpon, masih ada waktu lain untuk ngobrol atau matikan kompor jika itu hal yang  sangat penting. Bila sedang jaga anak yang masih bayi sebaiknya simpan dulu gawai dan nikmati kesempatan yang ada untuk waktu berkualitas dengan anak.

Itu saja tips dan unek-unek dari saya. Bila ada tambahan boleh deh dibagi.

2 comments:

Putri Pamelia said...

Ini bener banget mbk, fenomena kejadian bunuh diri akhir2 ini, disinyalir krn gawai juga, orang2 sekarang sudah individualis ga mau bermasyarakat, jadi klo ada apa2 disekitar lingkungan sendiri jadi ga peka. Mskasih reminder nya,,,

Chairudin Lukman said...

Tipsnya perlu diterapin nih... Saya kalo udah sama gadget suka lupa waktu.